Gerakan Filantropi sebagai Pusat Keunggulan Dakwah

05/21/2019

Rakorwil Lazizmu, Gerakan Filantropi sebagai Pusat Keunggulan Dakwah
Seluruh perwakilan Lazismu daerah tingkat kabupaten dan kota se-Jawa Tengah bertemu dalam forum Eapat Koordinasi Wilayah di Hotel Candi Indah Semarang, pada Sabtu, 30 Maret 2019. Lembaga Amil Zakat besutan Muhammadiyah tersebut berkoordinasi membahas sinergisitas yang melibatkan unsur pimpinan.
Pertemuan ini resmi dibuka oleh pimpinan wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah H.Tafsir, M.Ag. Dalam amanatnya, Tafsir menyampaikan tiga misi utama persyarikatan yang dia tekankan dalam beberapa poin penting.
Pertama, membangun pusat unggulan persyarikatan. Lazismu adalah salah satu lembaga pusat di MLO PWM Jateng. Secara legal, Lazismu mendapat mandate menghimpun, mengelola, dan menyalurkan dana ZISKA diharapkan bisa menjadi motor pengggerak kegiatan dakwah di persyarikatan. Menurutnya Lazismu harus dikelola dengan asas legalitas dan akunstabilitas yang dipertanggungjawabkan.
Kedua, membangun sinergi antar komponen persyarikatan. Kewenangan yang dimiliki Lazismu menjadi kesepatan untuk mengembangkan amal usaha lintas daerah maupun wilayah.
“Itulah penting menyiapkan SDM yang berkualitas didukung dengan sarana dari prasarana yang memadai” paparnya.
Ketiga, pendamping persyarikatan dan AUM. Dengan memanfaatkan dan ZISKA secara benar serta penyaluran yang tepat. Diharapkan mampu membangkitkan organisasi fungsional persyarikatan dengan baik.
Pada kesempatan itu. Ketua Lazismu Jawa Tengah, Dodok Sartono menyapaikan bahwa Lazismu di Jawa Tengah mulai tahun ini memberlakukan aturan undang-undang zakat secara ketat. Ada beberapa daerah yang dalam operasionalnya pengelolaan zakat belum sesuai dengan undang-undang, maka Lazismu mengambil keputusan untuk menonaktifkannya.
“Namun ada opsi yang bisa ditempuh secepatnya memenuhi persyaratan yang ditentukan dan menesuakian dengan peraturan yang berlaku” katanya. Ditegaskan pula oleh Dodok setiap tindakan penggalangan dana masyarakat engandung konsekuensi hukum. Oleh karenanya Lazismu tidak memberi toleransi aras pelanggaran hukum yang terjadi di dalam tubuh organisasi.