Indonesia Peduli Yaman Programs | matahatimu.org
22 Juta Orang Butuh Bantuan, Tiap 10 Menit Bayi Meninggal Meskipun Yaman adalah negara terbesar kedua di Semenanjung Arab dengan luas nyaris seperempat luas Indonesia. Namun, Yaman adalah negeri termiskin di Timur Tengah. Dan ironisnya, sejak Maret 2015, nestapa Yaman kian menganga akibat perang dengan koalisi Arab. Amnesty International menyebut bahwa warga sipil yang meregang nyawa hingga kini mencapai lebih dari 15.000 jiwa. Sedikitnya 3 juta populasi terpaksa mengungsi.

DETAIL

BERITA

PENCAIRAN DANA

LAZISMU PUSAT || 2019-01-03 13:34:35

Indonesia Peduli Yaman

INDONESIA PEDULI YAMAN
22 Juta Orang Butuh Bantuan, Tiap 10 Menit Bayi Meninggal
Meskipun Yaman adalah negara terbesar kedua di Semenanjung Arab dengan luas nyaris seperempat luas Indonesia. Namun, Yaman adalah negeri termiskin di Timur Tengah. Dan ironisnya, sejak Maret 2015, nestapa Yaman kian menganga akibat perang dengan koalisi Arab. Amnesty International menyebut bahwa warga sipil yang meregang nyawa hingga kini mencapai lebih dari 15.000 jiwa. Sedikitnya 3 juta populasi terpaksa mengungsi.
Memasuki tahun keempat, konflik telah meluluhlantakkan sisa-sisa infrastruktur yang ada. PBB memperkirakan lebih dari 50% fasilitas kesehatan tidak berfungsi, 16 juta warga tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang paling dasar dan kehilangan akses terhadap air bersih. Bahkan, 20 juta orang (73% populasi) tidak memiliki saluran air minum yang layak. (Laporan PBB terkait situasi Yaman, https://bit.ly/2Nw0zhS)
Amnesty International juga mencatat adanya 22,2 juta orang sangat membutuhkan bantuan internasional untuk kebutuhan-kebutuhan dasar mereka. (Amnesty International, https://bit.ly/1YBOcT0). Dari angka itu, sekitar 8,4 juta warga benar-benar tidak punya makanan untuk esok hari. “Jika keadaan tidak segera membaik, 10 juta orang lain akan jatuh dalam kategori yang sama akhir tahun ini,” ungkap Mark Lowcock, Koordinator Emergency Relief PBB. (Laporan dapat dilihat di laman berikut: https://bit.ly/2Nw0zhS)
UNICEF: Perang Yaman, Neraka Bagi Anak
Blokade dan pemboman yang terus berlangsung, kata Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, pada April 2018, menyebabkan 1 juta warga terserang wabah diare dan kolera. Jika infrastruktur kesehatan tidak segera dipulihkan, wabah kolera akan menyerang kembali. Masih kata Sekjen PBB, tiap 10 menit, seorang anak di bawah usia 5 tahun mati akibat penyakit yang dapat disembuhkan. Dan hampir 3 juta anak balita dan ibu hamil atau menyusui terkena malnutrisi. Hampir separuh dari seluruh anak Yaman dalam rentang usia 6 bulan sampai balita mengalami malnutrisi kronis dan menderita cacat fisik. (Rujuk Secretary-General's remarks to the Pledging Conference on Yemen, https://bit.ly/2SgkDYc). Laporan UNICEF menunjukkan lebih dari 11 juta anak, atau sekitar 80 persen dari penduduk negara di bawah usia 18 tahun, menghadapi ancaman kekurangan makanan, penyakit, pengungsian dan kekurangan akses layanan sosial. “Konflik telah membuat Yaman menjadi neraka kehidupan bagi anak-anak,” ungkap Meritxell Relano, perwakilan UNICEF di Yaman, seperti dilansir Reuters. (Sumber: https://bit.ly/2DRtN9z). Save the Children yang mengeluarkan data berbasiskan laporan PBB merinci sebanyak 84,700 balita menderita gizi buruk yang sangat parah. Mereka tewas dalam periode April 2015 hingga Oktober 2018. (Sumber:https://bit.ly/2DQZPTd).
Blokade Sebabkan Kelaparan Terburuk Abad ini
UNHCR atau Komisi Tertinggi PBB untuk Pengungsi menyimpulkan bahwa blokade telah menghambat kedatangan banyak bantuan internasional. Dan inilah sumber bencana besar yang mengintai. Koran The Independent mengutip peringatan PBB yang menyatakan bahwa situasi Yaman bisa segera berubah menjadi bencana kelaparan terburuk dalam sejarah manusia 100 tahun terakhir. Bila konflik terus berlanjut, PBB akan secara resmi mengumumkan bencana kelaparan itu untuk memicu tanggap darurat berskala internasional. (The Independent, Yemen facing the 'world's worst famine in 100 years' if fighting does not stop, warns the UN, https://ind.pn/2QYypy9)
Kita Takkan Diam, Yaman Saudara Kita
Tak banyak pemimpin dunia yang berupaya menghentikan konflik militer ini, entah lewat Dewan Keamanan PBB ataupun forum internasional lain. Media massa arus utama pun seolah bungkam seribu bahasa. Padahal, badan-badan internasional telah membeberkan fakta-fakta tragedi yang amat memprihatinkan dan mengerikan. Maka, perang Yaman pratis disebut The Forgotten War (Perang yang Dilupakan).
Namun, Indonesia tak akan melupakannya. Yaman adalah saudara kita. Muslim Yaman adalah salah satu yang ikut mendakwahkan Islam ke Indonesia. Yaman juga adalah salah satu negara yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia.
Maka, NU Care-Lazisnu dan Lazismu melalui kampanye bertajuk “Yaman Care” mengajak umat Islam khususnya dan rakyat Indonesia keseluruhan untuk ikut berdonasi guna meringankan beban krisis dahsyat yang sedang dirasakan pendudukan Yaman. Membantu makanan bagi yang kelaparan, menyembuhkan yang sakit, dan menghentikan arus kematian yang begitu cepat di sana.
Dana yang terkumpul akan disalurkan melalui kerjasama dengan Yayasan Al Ra'fah (http://alrafh.org) milik Pesantren Darul Musthofa, Tarim (Yaman) pimpinan Al-Habib Umar bin Hafiz yang selama ini telah bekerja untuk kemanusiaan di Yaman. Mari juga ikut menggalang solidaritas untuk dihentikannya perang di Yaman dan tercapainya perdamaian di negeri itu. Tanpa berhentinya perang, mimpi buruk di Yaman akan terus mengintai orang tua, perempuan, anak-anak, dan seluruh penduduk Yaman.
Mari berikan bantuan terbaik kita dengan berdonasi melalui laman ini.
Cara berdonasi:
1.    Klik "DONASI SEKARANG"
2.    Pilih Bank Transfer
3.    Dapat laporan via email
Bantu share juga halaman ini agar lebih banyak doa dan bantuan yang terkumpul.

Indonesia Peduli Yaman

05/15/2019
INDONESIAPEDULI YAMAN

22 Juta Orang Butuh Bantuan, Tiap 10 Menit Bayi Meninggal
Meskipun Yaman adalah negara terbesar kedua di Semenanjung Arab dengan luas nyaris seperempat luas Indonesia. Namun, Yaman adalah negeri termiskin di Timur Tengah. Dan ironisnya, sejak Maret 2015, nestapa Yaman kian menganga akibat perang dengan koalisi Arab. Amnesty International menyebut bahwa warga sipil yang meregang nyawa hingga kini mencapai lebih dari 15.000 jiwa. Sedikitnya 3 juta populasi terpaksa mengungsi.
Memasuki tahun keempat, konflik telah meluluhlantakkan sisa-sisa infrastruktur yang ada. PBB memperkirakan lebih dari 50% fasilitas kesehatan tidak berfungsi, 16 juta warga tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang paling dasar dan kehilangan akses terhadap air bersih. Bahkan, 20 juta orang (73% populasi) tidak memiliki saluran air minum yang layak. (Laporan PBB terkait situasi Yaman, https://bit.ly/2Nw0zhS)
Amnesty International juga mencatat adanya 22,2 juta orang sangat membutuhkan bantuan internasional untuk kebutuhan-kebutuhan dasar mereka. (Amnesty International, https://bit.ly/1YBOcT0). Dari angka itu, sekitar 8,4 juta warga benar-benar tidak punya makanan untuk esok hari. “Jika keadaan tidak segera membaik, 10 juta orang lain akan jatuh dalam kategori yang sama akhir tahun ini,” ungkap Mark Lowcock, Koordinator Emergency Relief PBB. (Laporan dapat dilihat di laman berikut: https://bit.ly/2Nw0zhS)
UNICEF: Perang Yaman, Neraka Bagi Anak
Blokade dan pemboman yang terus berlangsung, kata Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, pada April 2018, menyebabkan 1 juta warga terserang wabah diare dan kolera. Jika infrastruktur kesehatan tidak segera dipulihkan, wabah kolera akan menyerang kembali. Masih kata Sekjen PBB, tiap 10 menit, seorang anak di bawah usia 5 tahun mati akibat penyakit yang dapat disembuhkan. Dan hampir 3 juta anak balita dan ibu hamil atau menyusui terkena malnutrisi. Hampir separuh dari seluruh anak Yaman dalam rentang usia 6 bulan sampai balita mengalami malnutrisi kronis dan menderita cacat fisik. (Rujuk Secretary-General's remarks to the Pledging Conference on Yemen, https://bit.ly/2SgkDYc). Laporan UNICEF menunjukkan lebih dari 11 juta anak, atau sekitar 80 persen dari penduduk negara di bawah usia 18 tahun, menghadapi ancaman kekurangan makanan, penyakit, pengungsian dan kekurangan akses layanan sosial. “Konflik telah membuat Yaman menjadi neraka kehidupan bagi anak-anak,” ungkap Meritxell Relano, perwakilan UNICEF di Yaman, seperti dilansir Reuters. (Sumber: https://bit.ly/2DRtN9z). Save the Children yang mengeluarkan data berbasiskan laporan PBB merinci sebanyak 84,700 balita menderita gizi buruk yang sangat parah. Mereka tewas dalam periode April 2015 hingga Oktober 2018. (Sumber:https://bit.ly/2DQZPTd).
Blokade Sebabkan Kelaparan Terburuk Abad ini
UNHCR atau Komisi Tertinggi PBB untuk Pengungsi menyimpulkan bahwa blokade telah menghambat kedatangan banyak bantuan internasional. Dan inilah sumber bencana besar yang mengintai. Koran The Independent mengutip peringatan PBB yang menyatakan bahwa situasi Yaman bisa segera berubah menjadi bencana kelaparan terburuk dalam sejarah manusia 100 tahun terakhir. Bila konflik terus berlanjut, PBB akan secara resmi mengumumkan bencana kelaparan itu untuk memicu tanggap darurat berskala internasional. (The Independent, Yemen facing the 'world's worst famine in 100 years' if fighting does not stop, warns the UN, https://ind.pn/2QYypy9)
Kita Takkan Diam, Yaman Saudara Kita
Tak banyak pemimpin dunia yang berupaya menghentikan konflik militer ini, entah lewat Dewan Keamanan PBB ataupun forum internasional lain. Media massa arus utama pun seolah bungkam seribu bahasa. Padahal, badan-badan internasional telah membeberkan fakta-fakta tragedi yang amat memprihatinkan dan mengerikan. Maka, perang Yaman pratis disebut The Forgotten War (Perang yang Dilupakan).
Namun, Indonesia tak akan melupakannya. Yaman adalah saudara kita. Muslim Yaman adalah salah satu yang ikut mendakwahkan Islam ke Indonesia. Yaman juga adalah salah satu negara yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia.
Maka, NU Care-Lazisnu dan Lazismu melalui kampanye bertajuk “Yaman Care” mengajak umat Islam khususnya dan rakyat Indonesia keseluruhan untuk ikut berdonasi guna meringankan beban krisis dahsyat yang sedang dirasakan pendudukan Yaman. Membantu makanan bagi yang kelaparan, menyembuhkan yang sakit, dan menghentikan arus kematian yang begitu cepat di sana.
Dana yang terkumpul akan disalurkan melalui kerjasama dengan Yayasan Al Ra'fah (http://alrafh.org) milik Pesantren Darul Musthofa, Tarim (Yaman) pimpinan Al-Habib Umar bin Hafiz yang selama ini telah bekerja untuk kemanusiaan di Yaman. Mari juga ikut menggalang solidaritas untuk dihentikannya perang di Yaman dan tercapainya perdamaian di negeri itu. Tanpa berhentinya perang, mimpi buruk di Yaman akan terus mengintai orang tua, perempuan, anak-anak, dan seluruh penduduk Yaman.
Mari berikan bantuan terbaik kita dengan berdonasi melalui laman ini.
Cara berdonasi:
1.    Klik "DONASI SEKARANG"
2.    Pilih Bank Transfer
3.    Dapat laporan via email
Bantu share juga halaman ini agar lebih banyak doa dan bantuan yang terkumpul.
Tanggal Pencairan Dana